Ide Rumah yang Nyaman dan Asik untuk Anak Anak

Posted on

Ide Rumah yang Nyaman dan Asik untuk Anak Anak

Liburan sekolah membuat orangtua harus berpikir mengenai kegiatan apa saja untuk mengisi waktu liburan anak yang tidak sebentar. Tentunya kegiatan tersebut harus disukai dan bermanfaat bagi anak. Lupakan tempat rekreasi dan mal, karena kedua tempat itu hanya bisa dikunjungi sesekali. Sebagian besar waktu anak saat liburan justru ada di rumah. Maka, jadikan rumah sebagai tempat liburan. Seperti rumah Erik Wahyu Irawan dan Nova Soviningrat Clefena yang bisa menginspirasi untuk menciptakan rumah kita sendiri menjadi alternatif tempat liburan anak. Tak lupa pasangan ini menambahkan perangkat genset perkins agar aktifitas anak anak di rumah tidak terganggu saat mati listrik. Genset perkins yang digunakan berkapasitas 10 kva dan mampu memberikan pasokan listrik cadangan secara maksimal. Untuk harga genset perkins nya pun erik dan Nova mengatakan tidak terlalu mahal

Erik dan Clefy mem- buat ruang bermain anak di bangunan terpisah dari rumah inti. Bangunan tersebut berisi studio dan area bak pasir. Di luar bangunan, ada halaman rumput yang diisi dua sarana bermain. Sebagai penghubung atau pemisah bangunan tersebut dengan rumah inti, mereka menempatkan kolam renang dan pantai buatan. “Pada dasarnya kami membuat ruang bermain di rumah karena anak-anak kamimenjalani pendidikan homeschooling,” kata Erik dan Clefy. Bangunan tersebut berbentuk balok dengan dinding didominasi pintu lipat kaca transparan. Pembagian areanya, studio menempati ruang yang lebih besar dibanding area bak pasir. Kedua ruang dibatasi pintu geser kaca transparan yang bisa dibuka saat kedua anak mereka, Devan Fagan Artganta, 6 tahun, dan Aqmar Blueberry Artganta, 2 tahun, sedang beraktivitas di sana. “Jika semua pintu dibuka, maka ruang bermain ini menjadi bagian dari outdoor.

 

Karena ruang bermain anak memang sebaiknya terbuka, supaya anak mendapat oksigen dan sinar matahari yang sangat baik bagi kesehatan dan pertumbuhannya,” kata Clefy yang menyusun sendiri kurikulum pendidikan anak-anaknya. Studio dilengkapi meja kursi dan sarana penyimpanan berupa rak dan lemari. “Sebelumnya tidak mengunakan meja dan kursi agar anak leluasa bermain. Kini seiring beranjaknya usia anak, meja dan kursi diperlukan untuk mereka belajar duduk tenang,” kata Clefy. Sistem penyimpanan terorganisir. Alat tulis, alat gambar dan lukis, pun aneka jenis kertas, tersimpan dalam wadah yang dilabeli. “Beritahu anak mengenai tempat penyimpanan tersebut dan pastikan wadah tidak berpindah posisi. Biasakan mereka untuk menyimpan kembali benda yang digunakan ke tempat semula,” kata Clefy memberi kiat menjaga kerapian ruang bermain. Di studio juga terlihat berbagai macam benda yang biasa ditemukan di alam.

 

“Persilakan anak untuk menyimpan benda apapun yang mereka bawa dari luar di studio, karena suatu saat benda tersebut akan berguna untuk sarana belajar. Misal, daun bisa dicetak di kain atau kertas, dan kayu untuk mengantung hasil prakarya mereka,” kata Clefy. Bak pasir berukuran sekitar 1 x 2 meter dengan kedalaman 30 centimeter, diisi campuran pasir bangka dan pasir lampung. “Ini salah satu aktivitas sensorik (sensory play) untuk menstimulasi indera anak. Pilih pasir pantai yang halus, yang mudah ditemukan di toko material bangunan,” kata Clefy. Area bak pasir dipercantik dengan tegel berwarna kuning, menghadirkan keceriaan dan semangat bermain di ruang ini. Kolam renang sedalam 1,5 meter dibuat menyambung dengan pantai buatan. Di ‘tepi pantai’, ada perosotan dan ban besar sebagai sarana bermain air. Clefy juga melengkapi pantai buatan ini dengan dua utas tali tambang yang menjuntai dari balkon. Halaman rumput dilengkapi kapal dan tanga kayu, sarana permainan kesukaan kedua anaknya.

 

“Semua ini, kolam renang, pantai, bak pasir, kapal, tanga dan tali panjat, juga studio, terinspirasi dari anak saya, Fagan. Dia suka berenang, pantai, main pasir, memanjat, dan kapal. Dia juga suka bikin sesuatu,” kata Clefy. Di sudut halaman, terlihat lahan untuk berkebun. Clefy dan suami membuat beberapa bak tanaman dengan memanfaatkan sisa genteng yang tak terpakai. “Fagan dan Berry menanam pare, kale, bayam merah, daun bawang, dan jeruk. Jeruk dan pare malah memanfaatkan dari yang mereka makan. Selain belajar tanaman dan mengenal cacing yang membuat tanah subur, juga agar belajar lebih menghargai makanan dan pemberian Tuhan buat mereka,” kata Clefy. Salah satu bak tanaman didesain menjadi miniatur kota oleh kedua bocah yang disebut Clefy, Bolang dan Balang, di akun instagramnya, @ clefy_theartganta. Selain itu, Clefy dan Erik menyediakan perpustakaan mini di dekat kamar kedua anak mereka. Bahkan di kamar Berry, ada sudut baca. Dapur juga dimanfaatkan Clefy untuk aktivitas anak. “Berry suka makan, jadi belajar membuat kue sangat menarik baginya,” kata Clefy. Dinding pun bisa menjadi sarana anak mengambar. “Cat saja dengan warna hitam agar bisa dicoret-coret mengunakan kapur. Mudah dibersihkan, bahkan jika terkena hujan pun otomatis bersih,” kata Clefy yang memanfaatkan dinding carport.

 

Walaupun tersedia ruang bermain di hunian mereka, bepergian ke luar tetap diperlukan. “Misal, ke danau. Anak-anak bisa bermain perahu sekaligus belajar mengenal eceng gondok dan gangang yang mereka temui di sana,” kata Clefy. Sesunguhnya, area bermain anak di rumah tidak harus membutuhkan lahan yang luas. Paling tidak, tersedia halaman terbuka untuk anak beraktivitas di luar ruangan. “Rumah lama kami 119 meter persegi. Halaman kami lengkapi dengan bak pasir yang tidak besar tapi cukup untuk menampung Fagan bermain pasir di dalamnya. Bak yang dilengkapi penutup tersebut dwifungsi, bisa menjadi kolam. Tingal keluarkan pasirnya, isi dengan air. Untuk permainan panjat, kami manfaatkan tanga lipat. Dinding halaman pun kami cat hitam untuk dicoret-coret,” cerita Clefy yang memberi alternatif mengunakan kardus besar atau boks kontainer untuk menjadi bak pasir.