Masalah transportasi umum di Indonesia

Posted on

 

Transportasi umum pada dasarnya sebuah sarana yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia guna mendukung kegiatan dari masyarakat setempat. Namun seiring dengan berjalannya waktu kemudahan transportasi umum bukannya semakin membaik tetapi malah semakin memburuk. Menurunnya kemudahan ini disebabkan mempunyai masalah utama diantaranya ialah masalah keamanan, kebersihan, dan kenyamanan. Mari anda tinjau satu per satu masalah ini kenapa masyarakat tak mau menggunakan transportasi umum.Sewa bus pariwisata Pertama, masalah keamanan, anda sebagai masyakarat Indonesia tentu sudah tahu dan mengenal bakal resiko bila anda naik transportasi umum ini yaitu perbuatan kriminal yang pelbagai rupa metodenya diantaranya copet, rampok, hipnotis dan lainnya. Berdasarkan keterangan dari saya, masyarakat tentu lebih memilih kendaraan individu mereka, sebab mereka mendapatkan ketenteraman yang lebih dan jauh dari perbuatan kriminal yang biasa dijumpai di transportasi umum. Kedua, masalah kebersihan, tidak jarang kita lihat di dalam transportasi umum itu yang kotor dengan sampah atau juga bau yang tidak enak paling menyengat sehingga mengakibatkan orang-orang menjadi tidak kerasan akan lokasi yang kotor dan bau. Ketiga, masalah kenyamanan, dapat ditonton sendiri bagaimana kursi duduk yang telah “compang-camping”, dan suhu di dalam transportasi umum yang menciptakan gerah mengakibatkan masyarakat Indonesia lebih suka naik kendaraan individu mereka. Berdasarkan keterangan dari saya usahakan transportasi umum laksana bus dilengkapi dengan AC (Air Conditioner) dan berbenah kursi duduk yang dapat menciptakan orang nyaman dulu. Orang Indonesia bakal mulai menyenangi untuk naik transportasi umum ini bila Pemerintah dapat memastikan dan menyanggupi ketiga urusan tersebut.

Transportasi umum menjadi tidak cukup popular dimata masyarakat disebabkan sistem yang tidak cukup terkoordinasi dengan baik yang tak jarang mengakibatkan kekacauan. Sistem yang saya maksudkan disini ialah mengenai waktu, ongkos dan fleksibel. Kita dapat menyaksikan di sejumlah Negara telah maju menerapkan jadwal masa-masa kapan transportasi umum tersebut akan datang dan kemana saja trak yang bakal dilaluinya telah tertulis di badan bis dengan digital. Tidak laksana di Indonesia yang menunggu sampai penumpang mengisi transportasi umum itu barulah dia berangkat. Soal biaya, seharusnya Pemerintah memutuskan harga yang sama pada seluruh transportasi umum (contoh: bus) dari lokasi A ke lokasi B tersebut sekian rupiah, jadi tidak sesuka “kenek” busnya yang tak jarang memukul harga tidak banyak lebih mahal. Fleksibel yang saya maksud disini ialah usahakan setting guna pintu bus perlu dirapikan yaitu memiliki dua pintu. Satu pintu untuk semua penumpang masuk dan satu pintu untuk semua penumpang keluar. Bagi pintu terbit usahakan di sekitar supir bus dan di dekatnya disediakan mesin untuk menunaikan sehingga supir bus melulu perlu memantau saja dan tidak butuh seorang “kenek bus”. Para supir bus seyoganya pun mendapat pendapatan yang lumayan atau layak atas hasil kerja mereka sekitar sebulan, laksana pegawai begitu. Di Negara beda supir bus adalahpekerjaan yang paling mendapat apresiasi dari Pemerintahnya dengan gaji yang lebih dari cukup, sementara di Indonesia supir bus ialah pekerjaan rendahan dengan gaji pas-pasan melewati kejar setoran dan akhirnya mengemudikan dengan “ugal-ugalan” mengakibatkan masyarakat tak mau menggunakan transportasi umum. Dengan sistem yang jelas laksana ini masyarakat Indonesia tentu akan mulai menulis jadwal bus dan mulai menyenangi dengan sistem yang terkoordinasi dengan baik guna transportasi umum ini.

Transportasi umum pun menjadi tidak laku disebabkan pajak kendaraan individu yang rendah sampai-sampai orang mudah melakukan pembelian dengan angsuran kredit. Seharusnya Pemerintah mendongkrak pajak guna kendaraan individu seperti mobil sampai-sampai orang kembali beranggapan ketika hendak membeli kendaraan pribadi. Alternatif lain ialah naikkan harga parkir guna mobil pribadi, jadi meskipun mereka dapat beli namun akan beranggapan mahalnya tarif parkir guna mobil pribadi. Berdasarkan keterangan dari saya, melulu masyarakat ruang belajar atas alias yang benar-benar kaya lah yang dapat mempunyai mobil individu sehingga pemerataan ekonomi masyarakat pun bisa terjadi. Mau tidak inginkan masyarakat beberapa besar pasti bakal memilih menggunakan kemudahan transportasi umum guna beraktivitas laksana bekerja, bersekolah, melakukan pembelian barang dan sebagainya dengan daftar pembenahan sana sini mesti dilaksanakan terlebih dahulu.