Mobile Advertising: Era Baru Beriklan

Posted on

Iklan Bisnis Indonesia – Pernahkah Anda tengah jalan-jalan di sebuah mall tiba-tiba mendapat SMS pemberitahuan tengah tersedia discount besar-besaran di mall itu? Atau pas berada di toko buku, mendadak dikirimi sms mengenai info buku baru? Ya, begitulah cara kerja mobile advertising. Lewat manajemen database dan pemindaian aktivasi GPS, pengiklan tahu betul tengah berada di mana calon konsumennya.

Dunia pemasaran sudah memasuki era baru yang revolusioner. Pada pas efektifitas komunikasi pemasaran tradisional mengalami penurunan, sebuah metode baru di dunia pemasaran mengalami pertumbuhan signifikan. Cara baru berikut dikenal sebagai “pemasaran digital” yang memadukan faktor-faktor psikologis, humanis, antropologis, dan teknologis lewat multimedia bersama kapasitas besar dan interaktif. Hasilnya adalah babak baru pertalian antara produsen, intermediari pasar, dan konsumen, bersama perantaraan medium teknologi begerak (mobile) sebagai unsur dominan.

Penggunaan telpon seluler sebagai saluran utama komunikasi yang tetap bermetamorfosis sejalan bersama pertumbuhan teknologi komunikasi sanggup membuat perubahan pola-pola akses informasi dari pas ke waktu. Bahkan menurut Okazaki dan Taylor, pas ini ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi melainkan sebuah entertainment device, apalagi media.

Tren komunikasi pemasaran lewat fasilitas baru keliru satunya berbentuk Mobile Advertising yang manfaatkan telpon seluler sebagai medium utama. Dalam konteks komunikasi pemasaran termediasi, telpon jadi medium yang sanggup digunakan untuk melakukan one on one communication dengan pelanggan. Hampir seluruh pesan yang di terima oleh pengguna telpon seluler, dibuka secara personal oleh penggunanya. Berbeda bersama perlaku bermedia terhadap umumnya, seluruh pengguna telpon seluler mempunyai ponselnya kemanapun ia pergi. Ini adalah potensi berlebihan vital telpon seluler yang tidak dimiliki oleh fasilitas massa lainnya supaya pesan yang dikirimkan terlalu tertuju kepada pengguna ponsel berikut sesuai segmen pasar yang di idamkan oleh pemasang iklan.

Di Indonesia, biarpun penetrasi pemanfaatan telpon seluler tahun 2007 masih rendah dibandingkan bersama negara lain di Asia Tenggara, pertumbuhan industri seluler di Indonesia vital pertumbuhannya didalam 10 tahun terakhir, apalagi tumbuh dua kali lipat didalam 20 bulan terakhir (Indosat, 2008). Pengenalan kartu prabayar di tahun 1998 jadi pemicu (trigger) makin cepatnya penambahan pelanggan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002 mislanya, kuantitas pemilik telpon seluler sudah melampaui pemilik fixed phone (telepon tetap di rumah) (Indosat, 2008).

Sementara itu, populasi pengguna simcard di Indonesia sampai November 2008 sebesar 120 juta pelanggan (GSM & CDMA) yang tersebar di 12 operator telekomunikasi. Proyeksi tahun depan bakal capai total 160 juta pelanggan. Menurut Seta, melonjaknya kuantitas pengguna ponsel di negara ini tidak lepas dari makin murahnya ongkos kepemilikan dan tarif penggunaan, menjadikan ponsel lebih sanggup dibuka oleh golongan ekonomi yang lebih luas—terlebih golongan menengah ke bawah. Hal ini muncul dari cenderung turunnya pendapatan pengelola jaringan (network operator) yang kebanyakan diukur lewat ARPU (Average Revenue Per User) dari tahun ke tahun.

Pertumbuhan telpon seluler terhitung diimbangi bersama maraknya teknologi broadband yang membantu koneksi ke internet. Munculnya teknologi broadband bahkan memudahkan orang membuka internet di mana saja bersama teknologi mobile. Bila teknologi AMPS (generasi pertama/1G) yang muncul terhadap awal 1990-an sekadar melampaui keterbatasan kegunaan telpon yang statis jadi dinamis, dan juga cuma menampilkan suara, maka terhadap teknologi GSM (generasi kedua/2G) yang bergerak terhadap pertengahan dekade 1990-an, teknologi seluler tidak cuma sanggup jadi wahana pindah informasi didalam wujud nada namun terhitung data, berupa teks dan gambar (SMS dan MMS). Karena murah, akses teknologi mobile generasi ke dua ini berkembang pesat di Indonesia, supaya memasuki 2000-an, handphone jadi perangkat hidup (gadget) sehari-hari (Supriyanto dan Yusuf, 2007: 104-105).

Sejak tahun 2006, penduduk di Indonesia sudah sanggup nikmati layanan audio-visual yang lebih canggih bersama teknologi generasi ketiga (3G). Ada terhitung pilihan koneksi internet ke aplikasi seluler bersama proses UMTS, WiFi, dan WiMax. Berkaitan bersama kecepatan akses, lebih dari satu jaringan operator seluler sudah punyai jaringan paling cepat yang dikenal dengan high-speed downlik packet access (HSDPA) atau yang kerap disebut bersama 3,5G, yakni generasi yang merupakan penyempurnaan dari 3G. Terakhir, vendor maupun operator seluler sudah jadi manfaatkan teknologi next generation network (NGN) atau 4G (Subarkah, Kompas, 29 Juni 2007).

Pada awalnya, fasilitas untuk membuka informasi mengharuskan seseorang berada di satu area supaya sanggup menerimanya. Saat saksikan TV misalnya, seseorang perlu berada di area TV. Generasi pertama ini disebut sebagai “First Screen” sebab informasi yang terjadi satu arah. Perkembangan selanjutnya berubah ke fasilitas PC (personal computer) yang digunakan untuk membuka internet. Generasi ke dua ini prinsipnya hampir mirip bersama TV yang mengharuskan berada di depan perangkat komputer. Bedanya, informasi sudah dua arah sebab amat mungkin tanggapan balik, disebut sebagai “Second Screen” yang dianggap sebagai pemicu munculnya arus informasi yang mengarah terhadap personalisasi. Trend fasilitas terakhir, atau generasi ketiga tunjukkan bahwa perangkat telpon seluler (mobile) menjadi alat komunikasi personal yang amat mungkin pemiliknya menerima informasi dimana saja bersama interaktifitas dan mobilitas tinggi. Inilah disebut “Third Screen” (Euromonitor, 2008).

Melihat dari potensi dan pertumbuhan teknologi komunikasi bergerak dan juga penggunaanya didalam bidang bisnis, wujud advertensi bersama fasilitas komunikasi bergerak (Mobile Advertising) saat ini masih terlalu kurang. Karena itu dibutuhkan terobosan baru utnuk menjawab tantangan konvergensi layanan didalam komunikasi bergerak. Bagi operator penyedia jasa layanan telekomunikasi, untuk tetap jadi yang terdepan didalam mutu dan ragam pelayanan, merupakan bisnis terus menerus yang perlu dijalankan bersama penuh perhitungan, inovasi dan kreativitas. Dengan ada penyediaan saluran (channel) baru untuk advertensi yang sanggup dibuka via telpon seluler dibandingkan saluran advertensi konvensional (print ad, tv ad, radio ad),diharapkan bakal memberikan pilihan kepada advertiser untuk memasarkan dan mensosialisasikan product mereka. Di segi lain ada fitur–fitur baru yang menarik bagi pelanggan dan partner maka bakal menciptakan new revenue generator untuk meningkatkan pendapatan dari bisnis selular.

Bagi jaringan operator telekomunikasi, Mobile Advertising memberi banyak kegunaan antara lain: Pertama, produk baru didalam manajemen jaringan telekomunikasi seluler maupun aplikasi layanan jadi nilai jadi didalam berinovasi. Kedua, memberikan pendapatan tambahan bagi operator seluler—di luar pendapatan dari trafik pembicaraan—yaitu pendapatan dari advertensi bersama manfaatkan teknologi layanan berbasis lokasi. Ketiga, meningkatkan peluang memperoleh kepuasan pelanggan dan pengguna jasa operator telekomunikasi seluler, sebagai wujud implementasi dari prinsip costumer intimacy. Keempat, Memberikan peluang munculnya alternatif usaha-usaha baru di sektor telekomunikasi, seperti didalam perihal penyedia muatan (content) layanan.

Salah satu teknologi komunikasi mobile pertama kali yang diaplikasikan didalam pemasaran adalah periklanan SMS. Periklanan SMS adalah sumber perlu dari pemasukan bagi banyak operator, lebih-lebih sebab ini melibatkan “budaya pesan singkat” diantara remaja dan profesional muda (Sadeh, 2002). Salah satu keuntungan dari SMS adalah bahwa ini sanggup mempergunakan peluang tren “always on”, yang amat mungkin orang-orang punyai akses ke internet secara virtual selama hari. SMS terhitung sanggup lebih interaktif bersama pembeli dibanding fasilitas tradisional. Banyak perusahaan mengirim alert-pesan pendek yang, dikirim ke pengguna alat mobile’ supaya mereka tetap update mengenai berita, cuaca, situasi lalulintas dll- lewat sms. Ke deparinya, teknologi GPS (Global Positioning System) sanggup terhitung masuk didalam periklanan. lewat SMS untuk mereka yang melacak informasi area yang pas pas itu terhitung (Okazaki dan Taylor, 2008).

Okazaki dan Taylor (2008) menyebutkan, studi empiris dari akademisi dan praktisi sediakan pandangan didalam lebih dari satu segi didalam periklanan lewat SMS. Dalam studi pionir, Barwise dan Strong (2002; didalam Okazaki dan Taylor, 2008) laksanakan percobaan periklanan lewat SMS di Inggris. Dalam rekriutmen, responden dibayar sejumlah duwit sebagai insentif dan lebih dari 100 pesan iklan didalam enam minggu. Hampir seluruh responden jadi terlalu puas, 63% responden laksanakan aksi, dan 17% melanjutkan setidaknya satu pesan. Yang mengejutkan, sebanyak 84% dari responden sepertinya menyarankan periklanan lewat SMS ke temannya, pas 24% sepakat untuk menerimanya secara reguler. Hanya 7% yang mengacuhkan jasa tersebut.

Hal yang mirip terhitung terjadi terhadap laporan survei industri yang sporadis tunjukkan optimistik. Contohnya, terhadap sebuah survei percobaan yang dijalankan oleh Ericsson mengindikasikan bahwa 60% pembeli bahagia menerima periklanan lewat perangkat mobile. Sementara Quios mendapatkan bahwa level pengenalan dari periklanan lewat perangkat mobile terlalu tinggi: 79% dari partisipan menelpon lagi 60% dari periklanan (Barnes, 2002; didalam Okazaki dan Taylor, 2008). Kebalikannya, sebuah studi oleh Tsang, Ho, dan Liang (2004; didalam Okazaki dan Taylor, 2008) tunjukkan bersama tahu sikap yang waspada terhadap periklanan lewat perangkat mobile diantara orang-orang Taiwan.

Ketentuan yang terkait bersama periklanan berbasis teknologi mobile adalah strategi “push-type” dan “pull-type”. Periklanan SMS lewat perangkat mobile terhitung didalam aplikasi push strategy (Barwise plus Strong, 2002; didalam Okazaki dan Taylor, 2008). Artinya, arus informasi dan aktivitas pemasaran terjadi dari produsen ke pembeli (Spiller plus Beier, 2005). Dalam push strategy, pengiklan menyita inisiatif dan mengirimkan pesan secara segera ke pembeli tanpa mempedulikan apakah pembeli berkenan menerima pesan atau tidak. Sementara, pull srategy melibatkan pengiriman informasi yang diminta oleh pembeli (Barwise plus Strong, 2002; didalam Okazaki dan Taylor, 2008).

Awalnya, push strategy dihubungkan bersama bisnis untuk meningkatkan penjualan didalam pas singkat. Faktanya, promosi Man lewat perangkat mobile pertama kali memfokuskan diri terhadap pembelian yang mendesak. Kini, perusahaan yang manfaatkan iklan di perangkat mobile jugs coba menarik perhatian pembeli dan melahirkan tanggapan pembeli ke tingkat yang lebih tinggi dibanding saluran pemasaran segera lainnya, sebab mereka sanggup terkait lanngsung, yakni dialog satu lawan satu bersama pembeli (Kavassalis et. Al, 2003; didalam Okazaki dan Taylor, 2008).

Di Indonesia, keliru satu penyedia jasa telekomunikasi yang menerapkan Mobile Advertising adalah Indosat. Dari 160 juta pelanggan telpon seluler di Indonesia, Indosat duduki posisi ke dua bersama basis pelanggan sebesar 39 juta sampai akhir November 2008 bersama kuantitas register Mobile advertisingsebanyak 250.000 pelanggan (Indosat, 2008). Mobile advertising yang diterapkan Indosat berikut dinamakan I-KLAN (Indosat Iklan).

Sebagai sebuah entitas aplikasi teknologi, mobile advertising memiliki berlebihan dan kekurangan. Mobile Advertising memiliki berlebihan berupa pesan bersifat personalized, sesuai bersama obyek market yang ingin dicapai. Kelebihan lain dari Mobile Advertising adalah sifatnya yang interaktif. Sedangkan kelemahan Mobile Advertising berangkat dari karakteristiknya yang terlalu ”targeted” supaya jangkauannya terbatas. Dari segi konsumen, pesan-pesan iklan yang dikirimkan oleh pihak operator kadang-kadang berpotensi mengganggu penerima biarpun pas laksanakan persetujuan menerima kiriman iklan pembeli sudah mengakibatkan kesepakatan bersama keuntungan tertentu sebagai kompensasi menerima iklan (misalnya gratis sms, pernambahan pulsa, dan sebagainya).

Pemasaran berbasis wilayah yang sanggup dijangkau mobile advertising antara lain kemampuan untuk sediakan layanan prakiraan cuaca, arahan restoran, peta hotel terdekat, arahan menuju sebuah alamat, dan pertumbuhan terakhir lalu lintas. Fasilitas-fasilitas yang manfaatkan teknologi terkini seperti FeliCa, Bluetooth, dan teknologi GPS (Global Positioning System) ini dinilai sebagai fitur fasilitas baru yang disukai konsumen. Dengan kecanggihan teknologi, produsen sanggup memberikan penawaran yang disampaikan real time, atau terhadap pas pembeli tengah terlalu membutuhkannya. Dengan cara ini perusahaan melakukan pull strategy, dan menyita keuntungan dari keperluan konsumen. Dengan cara ini, pesan iklan  sanggup di tempatkan secara efektif.

Meski demikian, isu privasi dan keamanan akan mewarnai penetrasi peralatan mobile banyak berkembang di negara-negara maju. Meski demikian itu tidak menjamin, pembeli bakal bersama siap menyongsong periklanan mobile dengan perangkat mobile. Sebagaimana sudah diketahui, isu SPAM sudah jadi pengganggu privasi yang terlalu serius. Selain itu bulk e-mail yang seringkali berisi iklan, seringkali segera dihapus oleh user, sebelum mereka sempat membacanya. Dengan demikian, privasi pembeli perlu jadi poin yang diperhatikan secara serius. Mengetahui level penerimaan pembeli terhadap sebuah pesan, bakal jadi pertimbangan utama untuk memilih apakah perusahaan bakal menerapkan startegi periklanan bersama perangkat mobile atau tidak.

Oleh karenanya, dibutuhkan pendekatan baru di didalam melihat fenomena mobile advertising. Disebabkan sebab pembawaan interaktifitas fasilitas komunikasi baru, maka pokok-pokok pendekatan linear (SMCRE = source – message – channel –receiver – effect/feedback) komunikasi massa jadi kurang relevan lagi untuk fasilitas konvergen.

Dalam catatan McMillan (2004), teknologi komunikasi baru amat mungkin sebuah fasilitas memfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi. Dahulu disaat internet muncul di penghujung abad ke-21, pengguna internet dan penduduk luas masih mengidentikkannya sebagai ”alat” semata. Berbeda halnya sekarang, internet jadi ”media” tersendiri yang apalagi mempunyai kemampuan interaktif. Sifat interactivity dari pemanfaatan fasilitas konvergen sudah melampaui kemampuan potensi umpan balik (feedback), karena seorang khalayak pengakses fasilitas konvergen secara segera memberikan umpan balik atas pesan-pesan yang disampaikan. Karakteristik komunikasi massa tradisional di mana umpan baliknya tertunda jadi lenyap sebab kemampuan interaktif fasilitas konvergen, terhitung iklan dengan basis mobile. Kemampuan untuk manfaatkan penyampaian pesan tertentu sesuai wilayah bakal mengakibatkan perusahaan beralih ke periklanan bersama perangkat mobile.